KETIKA AKU BERQURBAN

Sejak subuh, suasana peternakan Pak Qasman telah dipenuhi hiruk pikuk anak buahnya beraktivitas. Kebisingan terasa di sana-sini.
“Pelan-pelan masukinnya, jalanannya licin nanti jatuh” ucap Pak Qasman.
“Terus. Tarik. Pegang yang kencang ikatannya. Jangan sampai lepas” sahut Mang Komar.
“Oke. Sip” tukas pak Qasman kepada anak buahnya.
“Semua sudah siap. Sekarang kita berangkat ke kota” perintah Pak Qasman kepada Lukman, salah satu supir Pak Qasman.
Rombongan truk itu melaju dengan kecepatan sedang. Kepulan asap rokok menghangatkan para supir yang kedinginan. Beberapa kali mereka memainkan asap rokok dengan membentuk bulatan-bulatan asap. Mang Komar menyetel lagu kesukaannya, Terajana. Dia khusyuk dalam lantunan lagu tersebut. Sementara sebagian dari kami sedikit cemas dengan perjalanan ini. Kecemasan ini pasti dirasakan ketika kami akan dibawa ke kota. Kecemasan yang dirasakan oleh setiap hewan ternak ketika hendak dijual oleh pemiliknya.
“Hei Wasno, kira-kira kita akan berada di tempat yang senyaman di peternakan atau nggak ya?” tanyaku.
“Moooo… mana aku tau. Ya tempat kita kan pasti sama di mana-mana. Di mana lagi kalo bukan di kandang?!? Kandang besar yang hanya terdiri dari terpal dan beberapa bambu untuk menampung kita semua” jawab Wasno dengan nada datar tak perduli.
”Moo… Moo… Yayaya… Kita akan dikumpulkan dalam satu tempat. Brek..semuanya ngumpul” ucapku dengan senang.
“Hei kawan. Kira-kira kita akan bertemu teman baru atau nggak kali ini?” tanya Wasno kepadaku.
“Mungkin… seperti biasa berbagai hewan ternak dari berbagai desa akan bergabung dengan kita di kota. Moooo” jawab Wasno tidak antusias.
“Aku jadi nggak sabar tuk sampai di kota. Mooo” seruku dengan mengerlingkan mata kepada Wasno.
“Aku sih bukannya senang tapi sedih. Kalo ada kesempatan kabur, Aku pasti kabur” sahut Iko yang ada di sampingku.
“Loh kenapa? Kan itu memang nasib kita sebagai hewan?” tanyaku penasaran.
“Aku masih ingin hidup bebas di ladang. Mencari rumput-rumput segar dan menikmati hidup bersama pujaan hati” jelas Iko sambil memandang jalan.
“Moo… Hahaha… Wah, Iko punya pujaan hati. Siapa itu Ko?” tanyaku sambil mendekati Iko.
“Kau tau sendirilah, Sap. Aku sering bersamanya saat kita main di ladang setiap hari loh. Hihihi” jawab Iko sambil tersipu-sipu.
“Alah masa kau nggak tau. Itu loh yang selalu menanyakan Iko jika dia belum ketemu Iko. Ya nggak, Ko?” tambah Wasno sambil mengedipkan mata kirinya ke Iko.
“Ohhh… Wika. Sejak kapan kamu dengannya ber…?” tanyaku sambil menepukkan ekor ke badan Iko.
“Aku lupa sejak kapan. Tapi dia udah lama kok jadi pujaan hatiku, Sap. Kamu aja yang nggak perhatiin” jelas Iko.
“Oia, para sapi betina kan tidak dibawa ke kota seperti kita ya. Pantas saja kamu sedih Ko” seruku sambil menatap mata Iko.
“Iya. Aku takut kalo ini adalah perpisahanku dengannya. Aku akan dibeli dan dipotong. Oh tidak!” kata Iko berkaca-kaca.
“Udah jangan sedih gitu. Kita nanti akan mendapat sobat baru di kota. Moo” kataku menghibur Iko yang sedang bersedih.
Sementara perjalanan yang jauh hampir selesai. Truk-Truk sudah memasuki pinggiran kota. Dalam waktu sepuluh menit, mereka akan sampai di Pasar Hewan Tahunan. Pasar ini digelar selama hampir satu bulan sampai menjelang Idul Adha. Pasar ini hanya ada setahun sekali yaitu menjelang Idul Adha. Hampir semua pemilik peternakan yang ada di kota Cidalarang ini ikut berpartisipasi dan membawa hewan ternak terbaik mereka.
“Man, parkir di pojok kiri sana saja” perintah Pak Qasman kepada Lukman sambil menunjuk ke arah parkiran.
“Sip” jawab Lukman.
Satu persatu sapi dan kambing diturunkan dari truknya masing-masing. Kemudian kami diarak ke tempat yang hanya diatapi terpal berwarna hijau dan dibatasi dengan bambu-bambu saja. Di sana sudah ada banyak sapi, kambing, domba bahkan kerbau. Aku senang melihat teman-teman baruku itu. Aku akan punya banyak sobat baru.
“Hei, pelan-pelan dong. Ekormu mengenai kakiku” seru sapi di sebelahku.
“Eh, maaf ya. Aku nggak sengaja. Tadi ada lalat yang mengganggu kakiku” ucapku sambil tersenyum.
“Kamu dari desa mana?” tanyanya kepadaku.
“Aku dari Desa Cibintang. Kalo kamu? tanyaku balik
“Aku dari desa sebelah, Desa Cimatahari” katanya sambil mengarah ke matahari.
“What’s your name, bro?” tambahnya dengan sok gaya.
“Oh Cimatahari. Aku tau itu. Dulu Aku pernah tinggal di sana dengan pemilik lamaku lalu Aku dibeli oleh pemilik baru dari Cibintang. Aku Sapri. Kamu?
“I’m Gagah. Teman-temanku memanggil Gagah karena perawakanku yang besar dan tangguh. Selalu menang jika berkelahi. Moooo” jelas Gagah sambil membanggakan diri.
“Yayaya… Aku bisa liat itu. Moo” kataku sambil merilik tubuh Gagah.
“Udah berapa lama kamu di sini?” tanyaku.
“Aku baru dua hari. Belum terlihat ada yang membeliku. Para calon pembeli selalu menggeleng-gelengkan kepalanya jika tau hargaku” kata Gagah sambil sedikit mengangkat kepalanya.
“Yayaya…Kamu pasti mahal. Aku yakin pemilikmu sangat memperhatikan makananmu di peternakan sehingga kamu bisa terjual dengan harga tinggi” ucapku sedikit mendekat ke gagah.
“Betul sekali. Aku sangat disayang dan dimanjakan oleh tuanku. Mereka memberiku vitamin, makanan yang bergizi. Memantau kesehatanku. Aku begitu dilayani. Mooo” serunya sambil berbangga diri.
“Apa Ibu dan Ayahmu ada di sini?” tanyaku.
“Ayah udah dibeli sebelum kami ada di sini. Ibu juga udah dibeli 10 menit yang lalu” jawab Gagah dengan rasa bangga yang tiada habisnya.
“Kalo Aku di sini bersama Ayahku, teman-teman beserta ayah mereka. Ibu-ibu kami tetap tinggal di peternakan. Ibu-Ibu kami di tugaskan untuk melahirkan dan mendidik generasi terbaik kami. Moo” jelasku tak mau kalah.
“Sap, jangan dengerin sapi itu. Sapi yang sombong! Paling-paling dia bohong. Siapa tau dipaksa makan dan minum sebelum dibawa ke sini seperti yang biasa dilakukan para pemilik ternak yang curang” bisik Wasno yang juga ikut mendengarkan percakapanku dengan Gagah.
“Eh, jangan berburuk sangka gitu. Siapa tau memang benar,walaupun dia adalah sapi yang sombong” timpaku kepada Wasno.
Petugas kesehatan dari Dinas Peternakan datang dan memeriksa kondisi semua hewan ternak di Pasar Hewan Tahunan Kota Mekar. Darah, gigi dan badan kami diperiksa. Ada yang dipulangkan oleh pemilkinya karena terbukti tidak sehat. Ada juga dimarahi petugas kesehatan karena menjual hewan ternak di bawah standar penjualan. Yang paling mengejutkan adalah beberapa ternak dari Desa Cimatahari didiskluafikasi karena terbukti melakukan penggemukkan secara mendadak terhadap hewan ternaknya. Teman-teman Gagah dipulangkan. Kurasa pemiliknya hanya memperhatikan Gagah dan kurang memperhatikan sapi lain. Lalu ketika hendak dijual pemiliknya nekad menggemukkan badan beberapa sapinya.
Hari demi hari telah berlalu. Sudah tinggal 5 sapi yang belum terbeli dari peternakan Pak Qasman termasuk Aku. Wasno sudah dibeli oleh seorang pengusaha dodol. Iko selalu memasang muka garang terkadang muka tak bersemangat ketika para calon pembeli mendekatinya. Ada-ada saja usahanya menggagalkan pembeliannya. Pak Qasman sampai kesal dibuatnya. Aku hanya bisa tertawa geli jika Iko sudah melakukan aksinya.
Tinggal 5 hari lagi Idul Adha, tetapi Aku belum juga terbeli. Ibuku pernah bercerita kepadaku bahwa dulu Kakek sangat bersemangat jika Idul Adha datang. Kakek ingin sekali menqurbankan dirinya ketika Idul Adha tiba, seperti kisahnya Nabi Ibrahim a.s ketika diperintahkan menqurbankan anaknya, Nabi Ismail a.s. Dengan keikhlasan dan kepatuhannyan kepada Allah,Nabi Ismail dengan patuh mempersilahkan Ayahnya melakukan perintah Allah. Lalu ketika hendak disembelih, Allah mengganti Nabi Ismail dengan teman sebangsaku.
Tidak semua hewan ternak yang akan disembelih bisa patuh dan mengikhlaskan dirinya disembelih. Kakek ingin sekali seperti Nabi Ismail a.s yang begitu ikhlas dan patuh kepada Allah untuk disembelih. Kakek begitu bersemangat dengan datangnya Idul Adha. Moment ini selalu ditunggunya. Kakek ingin sekali dibeli dan disembelih ketika Idul Adha. Maka, Aku pun ingin seperti Kakek yang begitu tunduk dan patuh terhadap Tuhannya. Inilah ibadah kami kepada Allah. Ikhlas dan patuh untuk disembelih atas nama-Nya. Melakukan yang terbaik untuk-Nya. Beginilah cara kami beribadah. Namun, tidak semua hewan ternak yang akan disembelih bisa patuh dan mengikhlaskan dirinya untuk disembelih. Ada yang memberontak ketika ditarik ke tempat sembelihan. Ada yang berusaha kabur ketika akan disembelih. Ada juga yang pura-pura sakit atau mati ketika hendak disembilh. Bermacam-macam cara untuk menghindar dari penyembelihan, tapi akhirnya mereka pasrah ketika disembelih.
“Yang ini berapa Pak?” tanya Bapak yang berbaju merah sambil memegang tubuhku.
“ini harganya 12 juta aja, Pak” jawab Pak Qasman dengan cekatan.
“Fisiknya oke. Sehat. Gemuk lagi. Warnanya juga bagus, ya Bu” ucap Bapak tadi bertanya menoleh ke arah istrinya.
“Iya, Pak. Harganya juga pas. Kita ambil ini ya, Pak Qasman. Bisa diantar langsung ke rumah?” kata Istri bapak berbaju merah itu.
“Oke. Saya langsung kirim sekarang. Boleh minta alamatnya, Bu” sahut Pak Qasman dengan antusias.
“Ini alamatnya dan ini uangnya” kata Ibu tadi sambil memberikan sebuah kartu nama dan setumpuk uang.
“Terima kasih, Bu. Ini bukti pembayarannya. Satu jam ke depan sapi ini sudah ada di rumah Ibu” jelas Pak Qasman tersenyum sumringah.
“Oke. Saya tunggu sapinya. Terima kasih, Pak” ucap Ibu tadi tersenyum pula.
Akhirnya Aku dibeli oleh seorang penguasaha dodol. Bahagia tiada terkira. Aku akan segera berjumpa dengan Allah, Tuhan yang selama ini kucinta. Aku melepas pertemuan terakhirku dengan teman-teman peternakan dengan berat hati. Kutitip salam hangat dan rindu yang sangat kepada Ibuku jika mereka bertemu dengan Ibuku. Juga salam perjumpaan di akhirat kelak. Aku akan menunggu Ibu di sana.
“Selamat tinggal, Ko. Kita akan bertemu lagi di tempat peristirahatan semua makhluk nanti” ucapku kepada Iko.
“Iya, Sap. Hati-hati di jalan ya. Aku akan kabarkan kepergianmu pada Ibumu. Semoga Aku bisa sepertimu kelak yang bersemangat menyambut Idul Adha dan patuh pada Allah” kata Iko menyemangati dirinya.
“Salam ya buat Wika jika kamu pulang ke peternakan” sahutku tidak melupakan Wika.
“Hei teman, Aku pergi dulu ya. Maaf, Aku mendahuluimu. Hahaha… Aku kan nggak semahal kamu. Becanda kok. Maaf ya” kataku sambil menggoyangkan ekor ke arah Gagah.
“Ya” kata gagah dengan sombong.
Lalu Aku diantar dengan mobil pick up Pak Qasman yang berwarna kuning. Pak Qasman juga ikut mengantarku agar Aku benar-benar sampai di rumah pembeli.
“Allahu Akbar… Allahu Akbar… Allahu Akbar…” suara takbir menggema diseluruh negeri ini. Mataku deras mengalirkan air mata. Aku terharu, sedih, dan senang. Aku terharu karena tak menyangka kalau aku akan bisa seperti Kakek, Ayah, dan hewan ternak yang mendahului perjuangannya, bisa beribadah kepada-Nya dengan cara ini dan juga suara takbir yang begitu menyemangatiku. Aku sedih karena aku tidak bisa melihat wajah Ibu untuk terakhir kalinya Aku hidup di dunia. Aku ingin melihat senyum Ibu untuk melepas kepergianku. Aku senang karena sebentar lagi Aku akan bertemu dengan Allah, Tuhan Yang Maha Pengasih, juga Kakek dan Ayahku.
“Allahu Akbar… Allahu Akbar… Allahu Akbar” seruku bertasbih memuja nama-Nya. Takbir itu semakin merasup jiwaku, menggema di setiap aliran darahku.

Di malam takbiran yang syahdu, 26 Nov 2009 10.40 pm
Aisyah (Ratna Ningsih)
Depok

Posted in FIKSI | Leave a comment

Pejuang Tanpa Nama

PEJUANG TANPA NAMA
“Lapor komandan! Pasukan sudah sangat kelelahan dan hari sudah semakin gelap. Bagaimana jika kita bermalam di sini dan melanjutkan kembali perjalanan kita besok pagi?” kata Eko.
Kemudian komandan melihat kondisi seluruh pasukan dari atas tunggangannya. Wjah mereka tidak sumringah apalagi bersemangat. Komandan melihat banyak tekukan dari wajah-wajah pasukan.
“Baiklah! Kita beristirahat di sini. Tolong siapkan tenda.” Perintah Komandan Safrul.
Dalam sekejap pasukan telah mendirikan tenda-tenda sementara untuk bermalam. Bagi mereka yang kelelahan yang sangat, mereka langsung tidur tanpa pikir panjang. Bagi mereka yang masih memiliki sisa tenaga, mereka mengisinya dengan menembang sebuah lagu perjuangan agar semangat mereka terbakar kembali dan mereka tetap berjuang dengan sepenuh jiwa membela tanah air.
Di sekitar tempat beristirahatnya pasukan, ada sebuah gubuk kecil yang sepi penghuni. Komandan merasa tertarik dengan gubuk kecil itu.Perlahan-lahan Komandan mendekati gubuk kecil itu. Terdengar suara merdu bacaan Al-Qur’an dari balik gubuk itu. Semakin dekat suara itu semakin jelas dan kuat. Alunan suara itu menyusupkan ketenangan di dalam dada. Komandan semakin penasaran. Lalu diketuklah pintu gubuk itu.
“Tok tok tok. Assalamu’alaikum” sahut Komandan Safrul.
“Wa’alaikum salam” jawab seorang pemuda sambil menyudahi bacaan Qur’annya.
“Siapa?” tanya pemuda itu.
“Aku, Komandan Safrul. Boleh Aku masuk?” tanya Komandan Safrul dari balik pintu.
“Silakan masuk, Komandan” jawab pemuda itu dengan mata berbinar. Komandan Safrul adalah komandan perang yang terkenal di kalangan rakyat. Dia merupakan sosok komandan yang rendah hati, semangat dan berkharisma.
“Maaf gubuknya sempit dan bau, Komandan. Anggap saja gubuk sendiri. Ada apa Komandan?” lanjut pemuda itu.
“Terima kasih sudah diizinkan masuk ke gubukmu. Gubuk yang nyaman. Kami sedang melakukan perjalanan menuju markas kami di desa seberang, karena hari sudah semakin gelap lalu kami memutuskan untuk bermalam di sekitar sini dan saya melihata ada sebuah gubuk di dekat tenda kami. Lalu aku tertarik berkunjung ke sini. Aku tidak melihat Ayah dan Ibumu. Di mana Ayah dan Ibumu? Apa kamu sendirian?” ucap Komandan Safrul.
“Saya sebatang kara. Hidup sendiri di hutan ini. Kedua orangtua saya meninggal karena peristiwa perampokan sekelompok orang berbaju tentara.” jelas pemuda itu.
“Berbaju tentara?” Kapan terjadinya peristiwa itu? Lalu kenapa ada rumah di tengah hutan seperti ini?” tanya Komandan yang penasaran.
“Tentaranya memakai topi yang disampingnya menutupi telinga dan mereka tidak menggunakan bahasa Indonesia, Komandan. Mata mereka sipit dan sepertinya mereka adalah tentara Jepang. Peristiwa itu sebulan yang lalu. Mereka masuk dengan tidak sopan ke salah satu rumah penduduk desa saya. Lalu mereka menyuruh kami untuk menyerahkan harta benda yang kami miliki kepada mereka. Kami tidak ada yang mau keluar dari rumah kami masing-masing karena kami juga tidak punya apa-apa. Kami bersembunyi di rumah kami. Lalu tentara itu membakar gubuk pertama mereka masukin untuk membuat kami takut dan keluar dari rumah. Benar saja. Penduduk desa ketakutan dan keluar dengan membawa apa saja yang menurut mereka berharga. Mereka yang tidak mau menyerahkan harta bendanya dibunuh oleh tentara dengan tembakan yang membabi buta. Kemudian orang-orang yang mencoba melarikan diri juga kena tembakan. Rumah-rumah dibakar semuanya oleh tentara tanpa tersisa satu pun. Alhamdulillah saya bisa melarikan diri dengan sebuah Al-Qur’an di tangan saya” jelas pemuda itu sambil berkaca-kaca.
“Bagaimana kamu bisa melarikan diri?” Dan mengapa seorang diri?” tanya Komandan safrul sambil mengerutkan dahi.
“Sebelum semua orang keluar dari rumahnya masing-masing, Ayah menyuruhku untuk melarikan diri lewat jendela belakang. Saya anak satu-satunya. Ibu tidak mau meninggalkan Ayah dan Ayah tidak mau meninggalkan desa karena dia lahir dan dibesarkan di sana. Beliau berat hati jika harus meninggalkan desa. Lalu saya pun berpamitan dengan Ayah dan Ibu. Saya sebenernya juga berat hati dan tidak ingin meninggalkan kedua orangtua juga desa saya. Tetapi Ayah memaksa saya dan menyuruh saya untuk pergi, jika tidak Ayah tidak akan menganggap saya sebagai anak”
“Lalu saya lari dan masuk ke hutan ini. Berhari-hari tanpa makan dan minum. Lalu saya berpikir bahwa saya tidak ingin mati sia-sia hanya karena kelaparan. Allah telah mengatur rezeki masing-masing termasuk rezeki saya di hutan ini. Lalu saya mencari tumbuh-tumbuhan atau apa pun yang ada di hutan ini agar bisa saya makan. Berhari-hari tanpa tempat berteduh. Kemudian secara perlahan-lahan saya mendirikan gubuk ini dengan kayu yang seadanya dari hutan ini, Komandan” jelas pemuda itu.
“Sungguh berat nasibmu, wahai pemuda. Tetapi kamu tetap bangkit untuk bertahan. Saya salut dengan perjuanganmu itu” ucap Komandan Safrul sambil menepuk pundak pemuda itu.
“Jadi Kamu sekarang yatim piatu?” tanya Komandan Safrul.
“Iya, Komandan” jawab pemuda itu sambil memeluk Al-Qur’an. “Tetapi sebelum saya pergi, Ayah berpesan kepada saya untuk bersatu dengan pasukan rakyat lain yang berjuang dan membela tanah air. Mengusir penjajah dari negara kita. Jadilah kamu pejuang yang memperjuangkan jiwa dan raga sampai darah penghabisan. Itulah bakti kita sebagai orang Indonesia” ucap pemuda itu dengan membara.
“Jadi kamu ingin menjadi pejuang?” tanya Koamdan Safrul.
“Iya” jawabnya mantab.
“Baiklah. Selamat bergabung pejuang. Jasamu sangat berarti buat perjuangan ini. Mari kita rapatkan barisan kita, kita bakar semangat kita, kita kuatkan kekuataan kita, dan kita mohon pertolongan dan kemenangan dari Sang Khaliq” kata Komandan sambil mengulurkan tangan kanan kepada pemuda itu dan mengepalkan tangan kirinya sebagai tanda semangat yang membara.
“Kita akan berangkat pagi-pagi buta. Aku harap kamu bisa mempersiapkan jiwa dan raga dengan baik. Apa kamu punya senjata?” tanya Komandan Safrul.
“Punya Komandan. Saya punya bambu runcing dan belati peninggalan Ayah saya” jawab pemuda itu.
“Sekarang istirahatlah atau jika kamu mau berdoa, berdoalah sepuasmu sebelum kita memulai perjalanan besok. Tetapi ingat kamu juga harus mengistirahatkan badan untuk energi besok “ jelas Komandan Safrul.
“Baik Komandan. Terima kasih telah memberi saya kesempatan menjadi pejuang” sahut pemuda itu.
“Komandan bisa tidur di sini bersama saya. Tempat saya masih cukup untuk Komandan” ucap pemuda itu sambil menunjuk tempat tidurnya yang beralaskan kayu.
“Baiklah. Jika kamu tidak keberatan, aku akan bermalam di sini. Terima kasih” sahut Komandan.
Di tengah heningnya malam, pemuda itu masih menyempatkan bermunajat kepada Allah. Berdoa dan mendekatkan diri kepada Sang Pencipta. Memohon perlindungan dan ampunan untuk kedua orangtuanya. Matanya basah mengingat peristiwa itu juga basah seakan-akan ini adalah perjuangannya yang terakhir di dunia. Lemah dihadapan Sang Khaliq. Badannya kecil jika dibandingankan dengan penciptaan-Nya yang maha sempurna dan luar biasa. Tidak henti-hentinya pujian terlontar dari mulutnya, membasahi bibir dan hatinya. Begitu khusyuknya dia bermesraan dengan Sang Maha Mencintai.
Burung-burung sudah berkicauan. Matahari masih tampak malu-malu terbit. Udara sejuk masuk dengan lembut ke hidung semua penghuni bumi. Semua tampak sibuk dengan urusannya masing-masing. Masih ada yang membersihkan peralatan masak seperti cerek, piring dan gelas. Ada juga yang membereskan tenda-tenda tadi malam. Mengecek perlengkapan perang dan perbekalan untuk perjalanan selanjutnya. Juga mengecek kelengkapan personil pasukan. Tak lupa daftar pejuang baru, pemuda itu.
Wajah pemuda itu tampak bercahaya, bersemangat, dan bersahaja. Seakan-akan malaikat pun hadir melengkapi pasukan ini. Mereka siap melangkah maju ke depan. Berjuang demi bangsa dan negara sampai darah pengabisan. Tidak ada kata mundur. Tidak ada kata takut. Tidak ada menyerah. Semuanya telah mempersiapkan jiwa dan raga. Walau harus meregang nyawa sekali pun. Tetap akan maju terus berjuang. Hidup Indonesia. Hidup bangsaku!!!
“Berhenti sebentar. Sepertinya ada suara dari balik pohon itu. Coba kamu cek wahai pemuda” perintah Komandan Safrul kepada pemuda itu.
“Siap, Komandan!” jawab pemuda itu.
Dengan cekatan dan hati-hati, pemuda itu mendekati pohon dan mengamati apa yang ada di balik pohon itu. Semua tegang. Menunggu tanpa suara.
“Lapor, Komandan! Di sana ada tentara Jepang yang sedang makan dan bernyanyi-nyanyi, Komandan. Ada sekitar 10 tenda besar yang berdiri. Tidak ada wanita dan anak-anak. Beberapa orang masih bermalas-malasan di dalam tenda, tetapi sebagian sedang makan dan bernyanyi di luar tenda” jelas pemuda itu.
Kemudian Komandan dengan cepat dan cerdik membuat strategi perang yang belum pernah dikeluarkan. Pemuda itu kedapatan di front depan. Komandan memberi kesempatan besar bagi pemuda itu. Beberapa orang diperintahkan menjaga perbekalan di tempat itu.
“Serangggggggg!!!!!” sahut pemuda itu dengan semanagat.
“Allahu Akbarrrrrrr!!!!” Gema semangat pemuda itu menyeruak membuat bulu kuduk lawan merinding.
“Allahu Akbarrr!!” ucap Komandan Safrul.
“Allahu Akbar!! Allahu Akbar!! Allahu Akbar” sahutan dari berbagai penjuru pasukan Indonesia yang semakin menciutkan semangat dan jiwa lawan.
Perang berkobar degan luar biasa. Semangat pasukan Indonesia juga luar biasa. Sesekali pemuda itu melindungi Komandan yang banyak mendapat serangan. Pemuda itu tidak menyia-nyia bambu runcing dan belatinya yang masuk ke tubuh-tubuh lawan. Tidak sedikit pula pemuda itu terkena tusukan goresan pedang tentara Jepang. Namun, pemuda itu tetap semangat. Tetap menegakkan badan untuk memperjuangkan tanah air.
Tidak ada yang tersisa dari tentara Jepang. Ada beberapa yang masih dikejar oleh pasukan yang menunggangi kuda dari pasukan Indonesia. Komandan mengecek siapa saja yang terluka dan tewas. Di lihat satu persatu personil pasukan Indonesia. Komandan menanyakan keadaan bagi yang terluka. Matanya masih mencari-cari sosok pemuda itu. Belum saling berpapasan mata Komandan Safrul dengan mata pemuda itu. Matanya diedarkan ke satu persatu personil pasukan yang sedang diobati dan masih hidup. Dia sungguh menyesal belum menanyakan nama pemuda itu sehingga tidak semuanya tahu pemuda itu.
Dia cemas mencari pemuda itu. Dia membalikkan badan orang-orang yang tergeletak di tanah tanpa nyawa. Dia memperhatikan dengan seksama wajah-wajah mereka. “Bukan yang itu. Bukan yang ini. Lalu di mana pemuda itu?”sahutnya dalam hati dengan resah.
Sampai dia terduduk pasrah di bawah pohon. Dia memejamkan mata. Kemudian dia pasrahkan tangannya jatuh ke tanah. Lalu dia gerak-gerakkan tangannya untuk mengusir kegalauan. Lalu dia mendapati tangannya memegang kaki seseorang yang tertutup daun. Lalu dia balikkan badannya perlahan. Kulihat dengan seksama dan dia mulai tegang. Benar saja. Tubuh itu adalah tubuh pemuda yang baru saja kukenal di hutan itu. Dia lihat banyak sabetan pedang di sana sini dan darah yang mengalir segar di kepalanya karena tembakan yang tepat mengenai kepala belakangnya.
Pemuda itu akhirnya gugur dalam medan perjuangan. Medan yang sangat mulia. Pertemuan dengan Sang Khaliq dengan cara yang gagah berani. Yang mau mengorbankan jiwa dan raganya demi tugas mulia ini. Medan yang dicita-citakan dan didamba Ayahnya. Dia telah menjadi pejuang tanpa harus dikenang namanya. Dia hanya ingin menjadi seorang pejuang yang membela negara ini dengan sepenuh jiwa dan raganya. Dia adalah pejuang tanpa nama yang patut diteladani semangat dan tekadnya, yang dapat dikenang dan dioatri dalam setiap pejuang bahwa kita tak perlu dikenal dengan sebuah nama jika ingin berjuang. Berjuanglah demi Allah, demi negara dan bangsamu. Selamat jalan wahai pejuang tanpa nama.
“Ya Allah, terimalah dia dengan segala kemuliaan-Mu. Pertemukan dia dengan orang tua-Nya. Ampunilahdia dan masukkanlah dia ke dalam surga-Mu. Amiin” doanya sambil terisak-isak dan memeluk erat tubuh pemuda itu.

Aisyah
Depok, di malam yang dingin 12:07, 12 Nov’09

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Hello world!

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

Posted in Uncategorized | 1 Comment